![]() |
Tampilkan postingan dengan label TUGAS TERSTRUKTUR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TUGAS TERSTRUKTUR. Tampilkan semua postingan
Kamis, November 26
Filsafat Pendidikan islam
KATA PENGANTAR
ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOÏm§9$#
Alhamdulillah,
segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT. Atas berkat dan hidayah-Nya-lah,
sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Tak lupa pula Shalawat serta salam
kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW sebagai "Uswatun Hasanah"
bagi dunia pendidikan Islam.
Makalah yang berjudul “Dasar dan Tujuan
Pendidikan Islam” ini sengaja kami susun sebagai tugas individu untuk bisa
mengikuti ujian akhir semester, khusunya FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM. Idak lupa
pula penyusun ucapkan terima kasih kepada Bapak Drs, Ahmad Hamdani, M Pd,
selaku dosen pengapu mata kuliah filsafat pendidikan yang telah memberikan
bimbingan dan arahan sehinggga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan
baik dan tepat waktu
Akhirnya, penyusun menyadari bahwa makalah
ini tak luput dari segala kekurangan dan keterbatasan baik dari segi penulisan
maupun isi di dalamnya. Untuk itu penyusun sangat mengharapkan saran ataupun kritik yang
bersifat membangun dari berbagai pihak terutama dari Dosen Pembimbing yang
bersangkutan, demi kesempurnaan pembuatan makalah-makalah selanjutnya.
Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi
kita semua, khususnya bagi diri saya pribadi, dan bagi seluruh civitas academia
fakultas tarbiyah STAISA Jakarta,
Jakarta, 10
Januari 2015
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………………………………...
i
DAFTAR ISI ….………………………………………………………………………………………………….. ii
BAB I
I. 1 PENDAHULUAN……….…………………………………………………….…………………………….
iii
I. 2 RUMUSAN MASALAH…………………….…………………………………….……………………….
iii
BAB II
II. 1 PEMBAHASAN ……………………………….………………………………………………………….. 1
II.2 DASAR PENDIDIKAN ISLAM…………………….………………………………………………….. 1
II. 3 TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM ………………………………………………….…………………. 3
II.4 KUALITAS MANUSIA MENURUT AL QUR”AN……………………………………….………. 4
BAB III
III.1 PENUTUP ……………………………………………………………………..…………………………… 7
III.2 SARAN ……………………………………………………………………….……………………………... 7
III.3 DAFTAR PUSTAKA…………….…………………………………………………………………………………………….. 8
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 LATAR
BELAKANG,
Pendidikan merupakan unsur terpenting bagi
manusia untuk meningkatkan kadar keimanannya
terhadap Allah SWT, karena orang semakin banyak mengerti tentang
dasar-dasar Ilmu pendidikan Islam maka kemungkinan besar mereka akan lebih tahu
dan lebih mengerti akan terciptanya seorang hamba yang beriman. Pendidikan merupakan suatu proses generasi
muda untuk dapat menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara
lebih efektif dan efisien. Pendidikan Islam adalah usaha merubah tingkah laku
individu di dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya dan
kehidupan dalam alam sekitar melalui proses pendidikan.
Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka
mencapai suatu tujuan, tujuan pendidikan akan menentukan kearah mana peserta
didik akan dibawa. Tujuan pendidikan Islam secara umum adalah untuk mencapai
tujuan hidup muslim, yakni menumbuhkan kesadaran manusia sebagai makhluk Allah
SWT agar mereka tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berakhlak mulia dan
beribadah kepada-Nya.
Dengan landasan yang kokoh dan kuat, tentu
pada akhirnya akan dapat mewujudkan tujuan yang maksimal yang menciptakan sosok
manusia yang berkualitas yang islami menurut Al-Qur'an, sosok teladan dalam
menata kembali pendidikan Islam yang bernilai ibadah.
I.2 RUMUSAN
MASALAH
1. Apakah
yang menjadi dasar atau landasan dalam pendidikan Islam ?
2. Apakah
yang menjadi tujuan dalam proses pendidikan Islam ?
3. Bagaimana
kualitas manusia menurut Al-Qur'an ?
BAB II
PEMBAHASAN
II.1 DASAR
PENDIDIKAN ISLAM
Dasar adalah landasan
untuk berdirinya sesuatu. Fungsi dasar ialah memberikan arah kepada tujuan yang
akan dicapai sekaligus sebagai landasan untuk berdirinya sesuatu. Dasar
pendidikan Islam tentu saja didasarkan kepada falsafah hidup umat Islam dan
tidak didasarkan kepada falsafah hidup suatu negara, sistem pendidikan Islam
tersebut dapat dilaksanakan di mana saja dan kapan saja tanpa dibatasi oleh
ruang dan waktu.
Dasar pendidikan Islam adalah sebagai berikut
:
1.
Al-Qur'an
Al-Quran adalah “Kalam Allah yang
diturunkan melalui malaikat Jibril kepada hati Rasulullah dengan lafadz bahasa arab dan makna hakiki untuk menjadi hujjah bagi Rasulullah atas kerasulannya dan menjadi pedoman bagi manusia dengan petunjuknya serta merupakan ibadah bagi yang membacanya”.
Umat islam sebagai suatu umat yang dianugerahkan Tuhan suatu kitab suci
Al-Quran, yang lengkap dengan segala petunjuk yang meliputi seluruh aspek
kehidupan dan bersifat universal, sudah barang tentu dasar pendidikan mereka
adalah bersumber kepada falsafah hidup yang berdasarkan kepada Al-Quran.
Pada masa awal pertumbuhan Islam, Nabi Muhammada Saw
adalah sebagai pendidik pertama, telah menjadikan Al-Quran sebagai dasar
pendidikan Islam disamping Sunnah beliau sendiri. Kedudukan Al-Quran sebagai sumber
pokok pendidikan islam dapat dipahami dari ayat Al-Quran itu sendiri.
Firman Allah SWT dalam surat Shad :
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami
turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya
dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. (Q.S. Shaad : 29)
Sehubungan dengan masalah ini, Muhammad Fadhil Al-Jamali seperti yang
dikutip oleh Ramayulis menyatakan, bahwa “Pada hakikatnya Al-Quran itu
merupakan perbendaharaan yang besar untuk kebudayaan manusia, terutama bidang
kerohanian. Ia pada umumnya merupakan kitab pendidikan kemasyarakatan, moril
(akhlak) dan spiritual (kerohanian)".
2.
As-Sunnah
Sunnah dapat dijadikan dasar pendidikan islam karena sunnah hakikatnya tak
lain adalah penjelasan dan praktek dari ajaran Al-Qurân itu sendiri, disamping
memang sunnah merupakan sumber utama pendidikan islam karena Allah Swt
menjadikan Muhammad Saw sebagai teladan bagi umatnya. Seperti yang dijelaskan
dalam firman-Nya dalam surat Al-Ahzab sebagai berikut:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan Dia banyak menyebut Allah". (Q.S.Al-Ahzab : 21)
Adapun konsepsi dasar pendidikan yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW adalah sebagai berikut :
a.
Disampaikan sebagai rahmatan li al-alamin.
b.
Disampaikan secara Universal
c.
Apa yang disampaikan merupakan kebenaran mutlak.
d.
Kehadiran Nabi sebagai evaluator atas segala aktivitas pendidikan.
e.
Perilaku Nabi sebagai figur identifikasi (uswah hasanah) bagi
umatnya.
Sabda Rasulullah Saw :
“Kutinggalkan kepadamu dua perkara (pusaka) tidaklah kamu akan tersesat
selama-lamanya, selama kamu masih berpegang teguh kepada keduanya, yaitu
kitabullah dan sunnah Rasulullah”. (H.R. Bukhari Muslim).
Ramayulis menjelaskan, bahwa prinsip menjadikan Al-Quran dan Sunnah sebagai
dasar pendidikan islam bukan hanya dipandang sebagai kebenaran keyakinan
semata, tetapi juga kebenaran yang dapat diterima oleh akal yang sehat dan
bukti sejarah. Adapun kebenaran yang dikemukakan-Nya mengandung kebenaran yang
hakiki, bukan kebenaran spekulatif dan relatif.
3.
Ijtihad
Pendidikan
sebagai lembaga sosial akan turut mengalami perubahan sesuai dengan perubahan
yang tejadi di masyarakat. Kita tahu perubahan-perubahan yang ada di zaman
sekarang atau mungkin sepuluh tahun yang akan datang mestinya tidak dijumpai
pada masa Rasulullah saw, tetapi memerlukan jawaban untuk kepentingan
pendidikan di masa sekarang. Untuk itulah diperlukan ijtihad dari pada pendidik
muslim. Ijtihad pada dasarnya merupakan usaha sungguh-sungguh orang muslim
untuk selalu berperilaku berdasarkan ajaran Islam, manakala tidak ditemukan
petunjuk yang jelas dari al-Qur`an ataupun Sunnah.
Dengan demikian untuk
melengkapi dan lebih mempermudah terealisasinya ajaran islam itu sangat
dibutuhkan ijtihad, sebab globalisasi dari Al-Quran dan Hadits saja belum
menjamin tujuan pendidikan islam akan tercapai.
Usaha ijtihad para ahli
dalam merumuskan teori pendidikan islam dipandang sebagai hal yang sangat
penting bagi pengembangan teori pendidikan pada masa yang akan datang, sehingga
pendidikan islam tidak melegitimasi status quo serta tidak
terjebak dengan ide justifikasi terhadap khazanah pemikiran para Orientalis dan
Sekularis. Allah sangat menghargai atau pengapresiasi kesungguhan para Mujtahid
dalam berijtihad.
II.2 TUJUAN
PENDIDIKAN ISLAM
Tujuan ialah
suatu yang diharapkan tercapai setelah sesuatu usaha atau kegiatan selesai.
Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mencapai suatu tujuan, tujuan
pendidikan akan menentukan kearah mana peserta didik akan dibawa. Tujuan
pendidikan Islam secara umum adalah untuk mencapai tujuan hidup muslim, yakni
menumbuhkan kesadaran manusia sebagai makhluk Allah SWT agar mereka tumbuh dan
berkembang menjadi manusia yang berakhlak mulia dan beribadah kepada-Nya.
Menurut Abdul Fatah Jalal, tujuan umum
pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut
Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada
Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah.
Islam menghendaki agar manusia dididik supaya
ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh
Allah. Tujuan hidup menusia itu
menurut Allah ialah beribadah kepada Allah.
Seperti dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56 :
“ Dan Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali
supaya mereka beribadah kepada-Ku”.
Menurut al Syaibani, tujuan pendidikan Islam
adalah :
1.
Tujuan yang
berkaitan dengan individu, mencakup perubahan yang berupa pengetahuan, tingkah
laku masyarakat, tingkah laku jasmani dan rohani dan kemampuan-kemampuan yang
harus dimiliki untuk hidup di dunia dan di akhirat.
2.
Tujuan yang
berkaitan dengan masyarakat, mencakup tingkah laku masyarakat, tingkah laku
individu dalam masyarakat, perubahan kehidupan masyarakat, memperkaya
pengalaman masyarakat.
3.
Tujuan
profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu,
sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai kegiatan masyarakat.
Menurut al abrasyi, merinci tujuan akhir
pendidikan Islam menjadi :
1.
Pembinaan
akhlak.
2.
Menyiapkan
anak didik untuk hidup di dunia dan akhirat.
3.
Penguasaan
ilmu.
4.
Keterampilan
bekerja dalam masyarakat.
Tujuan pendidikan Islam memiliki ciri-ciri
sebagai berikut :
1.
Mengarahkan
manusia agar menjadi khalifah Tuhan di muka bumi dengan sebaik-baiknya.
2.
Mengarahkan
manusia agar seluruh pelaksanaan tugas kekhalifahannya di muka bumi
dilaksanakan dalam rangka beribadah kepada Allah, sehingga tugas tersebut
terasa ringan dilaksanakan.
3.
Mengarahkan manusia
agar berakhlak mulia, sehingga tidak menyalahgunakan fungsi
kekhalifahannya.
4.
Membina dan
mengarahkan potensi akal, jiwa dan jasmaninya, sehingga ia memiliki ilmu,
akhlak dan keterampilan yang semua ini dapat digunakan guna mendukung tugas pengabdian
dan kekhalifahannya.
5.
Mengarahkan
manusia agar dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
6.
Tujuan
pendidikan Islam adalah membina dan memupuk akhlakul karimah.
II.3 KUALITAS
MANUSIA MENURUT AL-QUR'AN
Menurut Gordon Allport (1964), "Manusia berkualitas dipandang sebagai orang yang telah
menunjukkan kemampuan untuk memperluas lingkungan hidupnya, menghayati situasi untuk dapat berkomunikasi
dengan hangat, menerima dirinya sebagaimana adanya, mempersepsi lingkungan
secara realistik, memandang dirinya secara obyektif, serta berpegang pada
pandangan hidup secara utuh. Ciri-ciri
ini dimiliki oleh manusia yang telah matang (mature)".
Manusia berkualitas itu antara lain
dinamakan sebagai integrated
personality, healthy personality, normal personality, dan productive
personality [M.D.Dahlan, 1990 : 2-3]. Lebih jauh lagi ditemukan penamaan
manusia berkualitas itu sebagai insan kamil, manusia yang seutuhnya, sempurna,
manusia [insan] kaffah, atau manusia yang hanief.
Manusia berkualitas hendaknya menampilkan
cirri sebagai hamba Allah yang beriman, sehingga hanya kepada Allah ia
bermunajah, serta memberikan manfaat bagi sesamanya. Sekirannya lebih dalam
ditelusuri, kedua ciri utama itu kita dapatkan pada manusia taqwa, sehingga
manusia berkualitas dapat pula diartikan sebagai manusia yang beriman dan
bertaqwa" [M.D.Dahlan,1990:7].
Djamaludin Ancok [1998:12], mengutip Hartanto
[1997], Raka & Hendroyuwono [1998], ada empat kapital, yaitu kapital
intelektual [intellect capital], kapital sosial [social capital], kapital
lembut [soft capital], dan capital spritual [spritual capital]. Empat kapital
yang dikemukakan ini juga menggambarkan ciri manusia berkualitas. Maka,
karakteristik yang dikemukakan al-Qur'an, menjadi tolak ukur kualitas manusia,
karena karakteristik tersebut diturunkan dari konfigurasi nilai-nilai yang
dikemukakan al-Qur'an yang hadir bersama dengan kelahiran manusia ke dunia, dan menjadi sifat penentu dalam
pembentukan kepribadian manusia, yaitu :
1.
Kualitas Iman
Keimanan
merupakan kebutuhan hidup manusia, menjadi pegangan keyakinan dan motor
penggerak untuk perilaku dan amal (aktivitas kerja) manusia. Dalam keadaan
beriman, manusia dapat memperlihatkan kualitas perilaku, kualitas amal shaleh,
dan kualitas sosialnya yaitu ketulusan dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan
masyarakat luas. Manusia akan berperilaku, bekerja, dan bermasyarakat sesuai
dengan fitrah kejadiannya yang condong kepada hanief. Manusia berkualitas akan
berjuang melawan penindasan, tirani, dan tidak membiarkan kediktatoran atau
tindakan sewenang-wenang. Karena iman memberikan pula kedamaian jiwa, kedamaian
berperilaku, dan kedamaian beramal saleh.
Djamaludin
Ancok [1998:15], pada pembahasan kapital spritual, mengatakan bahwa
"Semakin tinggi iman dan taqwa seseorang semakin tinggi pula kapital
Intelektual, kapital sosial, dan kapital lembut". Manusia yang beriman
hatinya akan dibimbing Allah, jiwanya menjadi tenang dalam melakukan aktivitas
hidupnya.
2.
Kualitas Intelektual
Kualitas
intelektual sudah menjadi potensi awal manusia, karena ketika manusia
diciptakan, "Allah mengajarkan kepada Adam segala nama benda"
[QS.al-Baqarah (2):31]. Untuk itu, manusia sejak lahir telah memiliki potensi
intelektual, kemudian potensi intelektual ini dikembangkan. Kualitas intelektual merupakan perangkat yang
sangat diperlukan untuk mengolah alam ini.
Rasulullah SAW
bersabda, "Barang siapa yang ingin
memperoleh kebahagian dunia, dengan ilmu dan barang siapa yang ingin memperoleh
kebahagian akhirat, dengan ilmu dan barang siapa yang ingin memperoleh kebahagian keduanya juga dengan
ilmu".
Dalam
al-Qur'an surat Al-Mujadalah ayat 11,
Allah mengangkat derajat orang yang memiliki ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan dibutuhkan manusia guna
menopang kelangsungan peradabannya, karena manusia diamanatkan Allah untuk
mengolah dan memberdayakan alam ini. Djamaludin
Ancok [1998:12], mengatakan bahwa "Kapital Intelektual adalah
perangkat yang diperlukan untuk menemukan peluang dan mengelola ancaman dalam kehidupan.
Banyak pakar yang mengatakan bahwa kapital intelektual sangat besar peranannya
di dalam menambah nilai suatu kegiatan". Untuk itu, Ilmu pengetahuan telah
menjadikan manusia dengan berbagai keahlian (ahliha). Tiap keahlian menjadi
unsur penyempurna dalam perakitan
kehidupan sosial.
3.
Kualitas Amal Shaleh
Al-Qur'an
surat at-Tiin ayat 5-6, menyampaikan bahwa "Manusia akan dikembalikan ke
kondisi yang paling rendah, kecuali manusia yang beriman dan mengerjakan amal
salah".
Amal saleh merupakan perbuatan yang bernilai
bagi manusia, dan itu pula yang akan dilihat dalam cermin hidupnya. Amal
perbuatan yang bermakna bagi kehidupan manusia, baru dapat terwujud apabila
sebelumnya ada iman dan ilmu
pengetahuan. Dengan demikian Iman dapat membentuk kekuatan dalam diri manusia
untuk dapat mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan, memberikan semangat
kerja. Selain itu, amal saleh juga
terkait dengan kualitas ilmu, karena dengan berilmu manusia memiliki orientasi
kesanggupan melakukan perbaikan dan melakukan sesuatu perbuatan amal untuk
kepentingan dan kemaslahatan manusia.
4.
Kualitas Sosial
Manusia sebagai makhluk sosial berfungsi
terhadap masyarakatnya, artinya memiliki kemampuan untuk melakukan hubungan
dengan orang lain, karena manusia
merupakan keluarga besar, yang berasal dari satu keturunan Adam dan
Hawa. Dalam al-Qur'an surat al-Maidah ayat 2 : bahwa manusia dalam melakukan
aktivitas sosial sifat yang terbangun adalah saling "tolong
menolong-menolong dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa, dan dilarang
tolong-menolong dalam berbuat maksiat, berbuat kejahatan". Maka, kualitas
sosial sangat terkait dengan kualitas iman, ilmu, dan amal selah.
Semakin luas pergaulan seseorang dan semakin
luas jaringan hubungan sosial [social networking] semakin tinggi nilai
seseorang. "Kapital sosial
dimanifestasikan pula dalam kemampuan
untuk bisa hidup dalam perbedaan dan menghargai perbedaan [diversity].
Kemampuan bergaul dengan orang yang berbeda,
dan menghargai dan memanfaatkan secara bersama perbedaan tersebut akan
memberikan kebaikan buat semua".
Dalam al-Qur'an, manusia diciptakan dalam
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling kenal-mengenal, saling
tolong-menolong. Dengan dasar ini, manusia membangun jaringan silaturrahmi
antara sesamanya sesuai dengan fitrahnya.
BAB III
P E N U T U P
III.1 KESIMPULAN
1. Dasar
adalah landasan untuk berdirinya sesuatu yang berfungsi memberikan arah kepada
tujuan yang akan dicapai. Dasar pendidikan Islam adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah
sebagai pokok ajaran Islam yang utama yang saling melengkapi kemudian ijtihad
sebagai bentuk interpretasi di antara keduanya agar bisa menjawab segala
tantangan perkembangan jaman.
2. Tujuan
adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah sesuatu usaha atau kegiatan selesai.
Tujuan pendidikan Islam adalah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi,
pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah
dalam arti beribadah kepada-Nya.
3. Manusia
berkualitas menurut Al-Qur'an adalah manusia yang memiliki iman kepada Allah,
memiliki amal shaleh, memiliki ilmu pengetahuan, dan menjalin hubungan sosial
yang baik antara sesama manusia dengan tidak memandang derajat, suku bangsa,
dan agama.
III. 2 SARAN
Untuk mampu menghadapi tantangan global dan
arus perkembangan mental masyarakat yang semakin kritis, saatnya untuk kembali
menata pendidikan Islam khususnya di Indonesia. Tentunya, menjadikan Al-Qur'an
sebagai ajaran pokok ditambah dengan Sunnah Rasulullah sebagai "Uswatun
Hasanah", serta menyikapi segala permasalahan yang terjadi dengan jalan
ijtihad, bermusyawarah dengan kepala dingin dan dialogis, bersama-sama
membangun pendidikan Islam secara nyata dalam sistem persekolahan formal,
informal, maupun nonformal disertai aplikasi yang berkelanjutan dalam
kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2010
Uhbiyati, Nur, Ilmu
Pendidikan Islam,
Bandung: Pustaka Setia, 2005
Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam
Perspektif Islam, Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2001
Zuhairini, Dra.,
dkk., Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1995
Asy'arie, Musya, Manusia Pembentuk
Kebudayaan dalam Al-Qur'an,
Lembaga Studi Filsafat Islam, 1992
BODATA
PENYUSUN












